Kondisi Ekonomi dan Industri Batu Bara Tahun 2020

Sepanjang tahun 2020, pandemi COVID-19 telah mempengaruhi kondisi perekonomian secara global. Berdasarkan laporan World Economic Outlook, International Monetary Fund (IMF) memprediksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2020 terkontraksi -3,5% dengan sebagian besar negara di dunia tak terkecuali Indonesia mengalami negative growth.

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2020, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kontraksi yang cukup signifikan yaitu sebesar -2,07%, dengan PDB tahun sebelumnya sebesar 5,02%. Pemerintah memberikan berbagai stimulus ekonomi sebagai upaya untuk menyelamatkan ekonomi nasional. Bank Indonesia (BI) sebagai Bank Sentral juga telah mengeluarkan kebijakan yang akomodatif dengan menurunkan tingkat suku bunga BI 7 days repo rate. Sepanjang tahun 2020, BI tercatat telah 5 (lima) kali menurunkan tingkat suku bunga BI 7 days repo rate yaitu dari 5,00% menjadi 3,75%. Terlepas dari penurunan pertumbuhan ekonomi, Pemerintah berhasil menjaga tingkat inflasi pada level yang rendah, yaitu sebesar 1,68% dengan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang relatif stabil sejak pertengahan hingga akhir tahun 2020.

Penurunan pertumbuhan ekonomi global maupun nasional akibat pandemi COVID-19 pada tahun 2020 memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap pergerakan indeks harga komoditas batu bara. Ratarata indeks harga batu bara Newcastle (GAR 6322 kcal/ kg) dan ICI-3 (GAR5000 kcal/kg) di tahun 2020 masingmasing sebesar USD60,45 per ton dan USD43,11 per ton atau turun sebesar 22% dan 14% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar USD77,77 per ton dan USD50,39 per ton.

Tren penurunan indeks harga batu bara dunia berdampak terhadap Harga Batu Bara Acuan (HBA) Indonesia. Harga Batu Bara Acuan (HBA) yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia bulan Desember tahun 2020 sebesar USD59,65 per ton atau menurun 10% dari HBA bulan Desember tahun 2019 sebesar USD66,30 per ton.

Kebijakan Strategis Tahun 2020

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi di tahun 2020, PTBA terus berupaya untuk mendorong peningkatan kinerja. Langkah awal yang dilakukan Perusahaan adalah memastikan kesiapan operasional untuk menghadapi pandemi COVID-19. Dalam rangka menekan penyebaran COVID-19 di lingkungan kerja PTBA dan sebagai salah satu tindak lanjut atas kebijakan Kementerian BUMN untuk memberikan kontribusi dalam mendukung langkahlangkah strategis Pemerintah menanggulangi pandemi COVID-19, PTBA telah membentuk tim khusus yang bertanggungjawab untuk melakukan upaya pencegahan dan penanganan efektif terhadap penyebaran COVID-19.

Di saat pertumbuhan ekonomi diharapkan dapat meningkat di tengah pandemi COVID-19, PTBA tetap memprioritaskan pasar domestik, khususnya PLN Grup guna memberikan dukungan secara optimal untuk pasokan kebutuhan energi dalam negeri. Meskipun demikian, hal tersebut tidak menutup peluang bagi PTBA untuk memperluas pangsa pasar ekspor, terlebih di saat indeks harga yang rebound di akhir tahun 2020.

Kebijakan strategis lainnya yang ditempuh di tahun 2020 adalah meningkatkan kapasitas angkutan kereta api. Perseroan telah melakukan kerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) untuk mengembangkan kapasitas angkut dari produk batu bara yang dimiliki Perseroan, dengan sasaran daya angkut yang besar akan memberikan kemampuan yang berimbang atas peningkatan volume produksi.

Di tahun 2020, pengembangan angkutan batu bara jalur kereta api existing dari Tanjung Enim ke Dermaga Kertapati dengan target 5 juta ton berhasil terselesaikan dan akan kembali ditingkatkan menuju target 7 juta ton pada tahun 2021.

Sedangkan pengembangan angkutan batu bara jalur kereta api existing dari Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan dan pengembangan angkutan batu bara jalur kereta api baru beserta fasilitas dermaga baru Kramasan dan Tarahan II sedang dalam proses pelaksanaan pekerjaan.

PTBA juga telah menandatangani Head of Agreement (HoA/Perjanjian Induk) dengan PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) untuk pengembangan kapasitas angkutan batu bara dan/atau komoditas lainnya melalui sungai dan pelabuhan di Sumatera Selatan. Kerjasama pengembangan angkutan batu bara ini dilakukan untuk menyukseskan tujuan pembangunan koridor ekonomi Sumatera Selatan sebagai lumbung energi nasional.

Selain pengembangan angkutan batu bara, Perseroan juga masih terus melakukan pengembangan hilirisasi produk batu bara berkalori rendah melalui proyek gasifikasi yaitu pengembangan hilirisasi yang dilakukan dengan mengkonversi batu bara kalori rendah PTBA menjadi Dimethyl Ether (DME).

Pada proyek gasifikasi/hilirisasi tambang coal to DME, PTBA bekerja sama dengan Pertamina dan Air Products dan progres pengembangan proyek tersebut hingga akhir tahun 2020 dalam tahap finalisasi Cooperation Agreement.

Perusahaan juga berupaya melakukan upaya lain untuk penambahan nilai batu bara, melalui hilirisasi coal to activated carbon. Dimana PTBA telah menandatangani Head of Agreement (HoA) dengan produsen dan pemasok karbon aktif Activated Carbon Technologies PTY, LTD (ACT) yang berbasis di Australia pada akhir tahun 2020.

Perbandingan antara Target dan Realisasi Tahun 2020

Pandemi COVID-19 menyebabkan permintaan batubara di tahun 2020 mengalami penurunan akibat lockdown di berbagai belahan dunia atau pembatasan kegiatan perekonomian, sehingga menurunkan kebutuhan akan listrik yang berdampak pada penurunan permintaan batu bara. Penurunan permintaan batu bara tersebut juga diiringi oleh tren penurunan harga batu bara yang dimulai sejak Kuartal-I dan berhasil rebound di Kuartal-IV tahun 2020.

Meskipun menghadapi tantangan yang cukup berat di tahun 2020, namun Perusahaan tetap dapat mempertahankan kinerja yang baik. Produksi batu bara tahun 2020 terealisasi sebesar 24,84 juta ton atau turun dari sebelumnya sebesar 29,07 juta ton dan sedikit dibawah target yang ditetapkan sesuai RKAP Perubahan Tahun 2020 sebesar 25,11 Juta ton.

Sedangkan untuk penjualan di tahun 2020 terealisasi sebesar 26,12 juta ton atau turun dari tahun sebelumnya sebesar 27,79 juta ton. Pencapaian penjualan tersebut 5% melampaui target tahun 2020 sebesar 24,86 juta ton.

Komposisi penjualan tahun 2020 sebesar 54% untuk pangsa pasar domestik dan 46% untuk ekspor. Hal tersebut menunjukkan komitmen Perusahaan untuk tetap memenuhi kebutuhan pasar batu bara domestik yang sebagian besar digunakan untuk industri maupun pembangkit tenaga listrik.

Dari sisi kinerja keuangan, Perusahaan tetap mampu membukukan kinerja yang membanggakan di tengah pelemahan ekonomi dan bisnis sebagai akibat pandemi COVID-19, dengan mencatatkan pendapatan sebesar Rp17,33 triliun, laba bersih sebesar Rp2,39 triliun serta EBITDA sebesar Rp4,38 triliun.

Per 31 Desember 2020, total aset Perseroan sebesar 24,06 triliun atau turun sebesar 7,82% dari tahun sebelumnya sebesar 26,10 triliun

Kendala, Tantangan, dan Penyelesaiannya

Seperti yang telah digambarkan sebelumnya, kondisi tahun 2020 memberikan tantangan yang cukup berat bagi industri batu bara. Di tengah penurunan yang cukup signifikan atas permintaan dan indeks harga batu bara, Perseroan ditargetkan untuk dapat tetap tumbuh dengan baik dan mampu terus berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan batu bara nasional.

Untuk itu, Perseroan melakukan sejumlah kebijakan strategis agar tetap dapat mempertahankan kinerjanya. Diantaranya dengan melakukan penerapan operational excellence yang berkelanjutan dan perluasan pasar hingga upaya efisiensi dengan terus melakukan penurunan biaya usaha dan biaya pokok produksi melalui penerapan optimalisasi desain tambang.

Prospek Usaha Tahun 2021

Tahun 2021 diharapkan akan lebih baik daripada tahun 2020 dan menjadi tahun pemulihan ekonomi, seiring dengan meningkatnya akses terhadap vaksin COVID-19 serta aktivitas vaksinasi.

Dalam laporan World Economic Outlook, IMF memprediksikan bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2021 akan mencapai 5,50% dan 4,20% di tahun 2022. Sedangkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 sesuai proyeksi Bank Indonesia akan berada pada kisaran 4,30%-5,30%.

Pemulihan ekonomi global maupun nasional di tahun depan diproyeksikan berdampak pada komoditas batu bara, baik secara permintaan maupun indeks harga. Estimasi Konsumsi Batu bara Domestik (DMO) tahun 2021 sesuai data Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) adalah sebesar 137,50 juta ton atau naik 4,17% dibandingkan estimasi DMO tahun 2020 (Revisi Pandemi COVID-19). Sedangkan indeks harga batu bara yang telah mengalami kenaikan sejak Kuartal-lV 2020, diproyeksikan oleh beberapa pihak akan terus mengalami penguatan.

Dengan kondisi tersebut, PTBA optimis untuk menghadapi tahun 2021 diantaranya dengan menetapkan target produksi dan penjualan tahun 2021 yaitu sebesar 29,52 juta ton dan 30,72 juta ton, dimana target tersebut diatas target tahun 2020. Selain itu, PTBA masih terus fokus menggarap proyek hilirisasi, penyelesaian sejumlah proyek PLTU dan proyek angkutan batu bara dengan total alokasi dana belanja modal atau capital expenditure (capex) tahun 2021 sebesar Rp3,84 Trilun, alokasi Capex tersebut lebih tinggi dibandingkan alokasi capex tahun 2020 yaitu sebesar Rp2,77 triliun.