Alur Kerja UPTE


: Truck Street
: Stockpile
: Bucket Wheel Excavator
: Train Loading Station
BWE
: Bucket Wheel Excavator
SH/TR
: Shovel & Truck
SWKL
: Swa-kelola
TLS
: Train Loading Station

Produksi

Di tengah meningkatnya permintaan batu bara kalori menengah, Perseroan meningkatkan laju pertumbuhan produksi batu baranya dalam 5 tahun terakhir. Peningkatan tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kapasitas angkutan kereta api. Peningkatan kapasitas angkut kereta api dan peningkatan produksi batu bara Perseroan merupakan bagian dari klausa perjanjian pengangkutan batu bara dengan PT KAI. Selain komitmen untuk menjadi perusahaan energi, perjanjian ini juga turut mendorong Perseroan untuk terus meningkatkan produksi untuk pencapaian target dengan menerapkan strategi produksi terintegrasi, yaitu fokus pada aspek efisiensi, kualitas produksi, serta menjaga ketersediaan batu bara pada level yang optimal tanpa mengesampingkan penerapan prinsip-prinsip aspek Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L).

Uraian

2016 (ton)

2015 (ton)

Deviasi

Peningkatan/Penurunan (%)

Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE)        
Tambang Air Laya (TAL) 9.805.949 10.711.030 (905.081) 8,45
Muara Tiga Besar 2.883.226 2.179.231 703.995 32,30
Banko Barat & Tengah 6.089.692 5.685.129 404.563 7,12
Total Production of UPTE 18.778.867 18.575.389 203.478 1,10
Unit Pertambangan Ombilin (UPO) 997 21.119 (20.122) (95,28)
PT Internasional Prima Coal (IPC) 844.025 686.443 157.582 22,96
Jumlah Produksi 19.623.889 19.282.951 340.938 1,77

PENGANGKUTAN

Perseroan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dalam proses pengangkutan batu bara dari Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan (Lampung) dan Dermaga Kertapati, Palembang. Proses yang dilalui dalam pengangkutan batu bara meliputi:

  1. Pengaturan jumlah dan kualitas muatan batu bara yang akan dimuat ke dalam setiap gerbong kereta api melalui Train Loading Station (TLS).
  2. Pengawasan dan pencatatan distribusi batu bara menuju Pelabuhan atau Dermaga.
  3. Pelaksanaan bongkar muat batu bara dari gerbong kereta api menggunakan Rotary Car Dumper (RCD) di Pelabuhan Tarahan dan Apron Feeder (AF) di Dermaga Kertapati.

Sejalan dengan meningkatnya produksi batu bara di tahun 2016, maka total volume angkutan batu bara melalui kereta api ke Pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati juga mengalami peningkatan, yaitu dari 15,79 juta ton tahun 2015 menjadi 17,7 juta ton di tahun 2016 atau meningkat 12,22%, dengan perincian seperti pada tabel berikut :

Uraian

2016 (ton)

2015 (ton)

Deviasi

Peningkatan/Penurunan (%)

Tanjung Enim - Tarahan 14.706.099 13.497.100 1.208.999 8,96
Tanjung Enim -Kertapati 3.014.728 2.294.530 720.198 31,39
Total Angkutan 17.720.827 15.791.630 1.929.197 12,22

Perseroan dan PT KAI mempunyai komitmen yang tercantum dalam kontrak tarif angkutan batu bara jangka panjang yang berlaku sampai dengan 2016 sebagai tindak lanjut dari perjanjian angkutan batu bara tahun 2009 dan ditandatangani pada akhir tahun 2011. Peningkatan volume angkut batu bara pada tahun 2016 juga merupakan hasil dari perbaikan sistem manajemen angkutan dan koordinasi yang intensif antara Perseroan dengan PT KAI.

Secara khusus, peningkatan kapasitas angkutan batu bara di tahun 2016 didukung oleh berbagai faktor, antara lain, telah selesainya pembuatan jalur ganda (double track), perbaikan rail-loop, train loading station, serta perawatan rutin di fasilitas muat dan bongkar milik Perseroan.

Penjualan

Tren peningkatan penjualan batu bara Perseroan di tahun 2016 masih berlanjut. Penjualan batu bara Perseroan tahun 2016 meningkat 9% dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 19,10 juta ton di tahun 2015 menjadi 20,75 juta ton di tahun 2016. Kenaikan volume penjualan tersebut berasal dari peningkatan volume penjualan domestik sebesar 22% dari 10,05 juta ton pada tahun 2015 menjadi 12,27 juta ton pada tahun 2016 atau 103,25% dari target 12,30 juta ton. Sebagian besar penjualan domestik adalah dalam rangka memenuhi Domestic Market Obligation (DMO), melalui kontrak jangka panjang untuk memasok ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yaitu PLTU Suralaya, PLTU Bukit Asam, PLTU Tarahan dan PLTU Percepatan 10.000 MW. Sementara itu, penjualan ekspor tahun 2016 mencapai 8,49 juta ton, menurun 6% dibandingkan penjualan tahun sebelumnya yang sebesar 9,05 juta ton. Negara tujuan ekspor Perseroan masih difokuskan pada negara-negara di kawasan Asia Pasifik seperti India, Taiwan, Malaysia, Tiongkok, Jepang, Sri Lanka, Korea, Kamboja, dan Vietnam. Hal ini berdasarkan pertimbangan geografis agar dapat menekan biaya distribusi.

Penjualan (ton)

Domestik 12.267.467 10.051.853 9.300.547 8.170.818 8.427.779
Ekspor 8.485.700 9.049.368 8.664.003 9.589.337 6.906.994
Jumlah Penjualan 20.753.167 19.101.221 17.964.550 17.760.155 15.334.773