Mengenang Tambang Batu Bara di Sawahlunto

Nama Sawahlunto tidak asing lagi sejak even olahraga bertaraf internasional Tour de Singkarak yang digelar oleh Pemerintah Kota Sawahlunto, Padang, Sumatera Barat. Acara ini didukung penuh oleh perusahaan pertambangan batu bara milik negara, PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Unit Pertambangan Ombilin (PTBA UPO)

Sawahlunto adalah kota kecil di sebelah timur kota Padang. Nama ini cukup lekat dengan pertambangan batu bara. Bila berbicara batu bara, ingatan pun tertuju kepada PTBA, salah satu perusahaan besar milik negara yang bergerak di bidang pertambangan batu bara.

Jauh sebelum dikelola oleh PTBA melalui anak perusahaannya PTBA UPO, batu bara yang berada di perut bumi Sawahlunto ini dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda. 

Dalam laporan sebuah situs berita nasional, liputan6.com, diceritakan, pertambangan batu bara di kota kecil ini bermula pada tahun 1867. Ketika itu, seorang petualangan asal Belanda Willem Hendrik de Greve berhasil menemukan deposit batu bara di dalam perut bumi, di sekitar Sungai Ombilin, mencapai 205 juta ton. Penemuan ini sungguh mencengangkan ketika itu.

Ketika itu, Batubara sangat dibutuhkan oleh dunia industri dan transportasi. Atas persetujuan pemerintah Belanda, ia mulai melakukan penambangan batu bara. Sejak itu, kota yang terpencil itu menjadi ramai.

Setelah masyarakat setempat "menyerahkan" daerah ini kepada Belanda, maka pada tahun 1876, dirintislah pertambangan batu bara di daerah ini. 

Penambangan emas hitam di Sawahlunto mulai beroperasi pada tahun 1891. Nilai investasi yang ditanamkan Kerajaan Belanda ketika itu sangat besar, 20 juta Gulden atau setara dengan Rp150 miliar.

Jalur kereta api dibangun sepanjang 100 kilometer menghubungkan Sawahlunto dengan Pelabuhan Teluk Bayur, Kota Padang. Lokomotif terbaru pun didatangkan dari Jerman. Mak Itam namanya. Batu bara membuat Sawahlunto menjadi magnet bagi kaum pendatang di awal abad 20. Kebutuhan akan pangan meledak. Memaksa Belanda membangun pusat pengolahan makanan yang kini menjadi Museum Gudang Ransum. Di sinilah pemenuhan pangan seluruh para pekerja tambang dan warga masyarakat, termasuk untuk orang Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, pertambangan itu dikelola oleh negara melalui perusahan yang didirikannya, yakni PT Tambang Batu Bara Ombilin (TBO). TBO kemudian dilikuidasi menjadi anak dari PTBA yang berada di Tanjung Enim, Sumatra Selatan. 
 
Hingga kini, Kekayaan batu bara di perut bumi Sawahlunto ini terekam jelas di sebuah lubang tambang batu bara yang dinamakan Lubang Mbah Suro.

Lubang ini merekam perih laranya para kaum pekerja paksa. Kaum tahanan pemerintahan Hindia Belanda yang didatangkan dari Pulau Jawa dan daerah lain yang disebut orang rantai. 
Pada tahun 1932, lubang ini ditutup oleh belanda. 

Pada 2007, lubang yang berada di Tangsi Baru Kelurahan Tanah Lapang, Kecamatan Lembah Segar ini pun dibuka kembali oleh pemerintah daerah setelah melalui beberapa kali pemugaran untuk keperluan pariwisata. Saluran air dan udara ditambahkan agar pengunjung dapat memasukinya dengan nyaman.

Meski PTBA UPO kini tidak beroperasi lagi, karena harga acuan batubara kini tak sebanding dengan ongkos produksi jenis tambang. Namun, PTBA UPO telah membangun sebuah museum bernama Museum Tambang Batubara Ombilin pada 14 Juni 2016 lalu.

Museum yang diresmikan oleh Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Dr. Sapta Nirwanda ini bertujuan sebagai pusat dokumentasi dan arsip PTBA UPO, dan diharapkan dapat menjadi pelengkap mutakhir dari berbagai objek wisata yang ada di Sawahlunto, bahkan menjadi pusat studi dan informasi sejarah pertambangan batubara di Indonesia serta mampu menarik wisatawan baik dalam negeri maupun mancanegara.