Target Tahun 2020
  1. Zero Fatal accidents sebesar 0%
  2. Frequency Severity Indicator Rate sebesar 0,00002
* sesuai sasaran K3 tahunan PTBA

Target Tahun 2021-2025
  1. Zero accidents (LTI)
  2. Indek pengelolaan K3 sebesar 3,5
  3. Employee engagement in safety to be at 100 %
  4. Pengelolaan risiko untuk kejadian risiko fatal (RC3F)


Kriteria Data

Menyediakan tempat kerja yang aman dan sehat
Pekerja merupakan aset utama bagi PTBA. Sebab itu, Perusahaan berupaya semaksimal mungkin untuk menciptakan suasana dan kondisi yang aman dan nyaman bagi mereka. Perusahaan meyakini bahwa tersedianya lingkungan kerja yang aman dan nyaman akan berdampak positif pada semangat, loyalitas dan dedikasi pekerja dalam menjalankan tugasnya, yang pada gilirannya akan menaikkan kinerja Perusahaan.

Dalam upaya mewujudkan lingkungan kerja yang aman dan nyaman, Perusahaan menempatkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai prioritas. Bagi Perusahaan, pencapaian target-target kinerja akan lebih sempurna jika diikuti dengan perlindungan maksimal bagi seluruh insan PTBA. Dalam konteks inilah, maka seluruh insan PTBA berkomitmen mendukung dan melaksanakan aspek keselamatan dan kesehatan kerja dalam semua kegiatan, dengan hasil akhir berupa terwujudnya angka kecelakaan kerja nihil (zero accident).

Untuk memastikan standar K3 telah diterapkan dan demi menunjukkan komitmen pelaksanaan kegiatan penambangan yang aman, PTBA telah mengintegrasikan semua sistem operasional yang berhubungan dengan aspek pengelolaan K3 ke dalam Bukit Asam Management System (BAMS) diantaranya yaitu Penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 tahun 2012, Sertifikasi ISO 45001:2018 dan penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) sesuai Peraturan Menteri ESDM No 26 Tahun 2018.

Kebijakan yang lain, agar penerapan SMK3 lebih efektif, Perusahaan mewajibkan mitra kerja/kontraktor pihak ketiga untuk mematuhi persyaratan K3 yang telah diterapkan di lingkungan Perusahaan melalui prosedur Contractor Safety Management System (CSMS). CSMS bertujuan untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan mitra kerja atau kontraktor pihak ketiga melalui penerapan SMK3, termasuk aspek-aspek yang berkaitan dengan Hak asasi manusia di tengah menjalankan pekerjaan.

Organisasi Pelaksana K3
Untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan SMK3, PTBA memiliki Organisasi pengelola K3L dan Safety komite (P2K3) / Komite Keselamatan Pertambangan (KKP) yang anggota terdiri dari wakil manajemen, wakil pegawai di setiap satuan kerja serta kontraktor inti. Fungsi dan kedudukan P2K3 serta tugas yang menjadi tanggung jawabnya telah diatur dalam pasal 79 Perjanjian Kerja Bersama (PKB), yang merupakan bentuk kesepakatan antara Perusahaan dengan pegawai.

Tugas pokok safety komite adalah memberikan saran dan pertimbangan, baik diminta maupun tidak, kepada mitra pengusaha/pengurus satuan kerja yang bersangkutan mengenai masalah-masalah keselamatan dan kesehatan kerja. Perusahaan secara rutin melaksanakan pertemuan dengan P2K3, baik dengan unit-unit kerja terkait maupun dengan mitra kerja/kontraktor. Dalam pertemuan sejumlah topik dibahas, termasuk mengingatkan agar seluruh pihak terkait senantiasa melaksanakan seluruh ketentuan terkait K3.

Leading indicator K3
Dalam upaya mewujudkan zero accident, Perusahaan telah menjalankan program K3 pada tahun 2020 sebagai berikut:

Kriteria Data

Manajemen Risiko Keselamatan Pertambangan
Pelaksanaan manajemen risiko keselamatan pertambangan mengacu pada Permen ESDM No. 26 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang baik dan Pengawasan Mineral dan Batubara dan Kepmen ESDM No. 1827.K Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang Baik.
PTBA telah memiliki prosedur manajemen risiko yang terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan. Kegiatan manajemen risiko dilaksanakan dan menjadi tanggung jawab seluruh unit. Proses pengelolaan manajemen risiko keselamatan pertambangan dapat diuraikan sbb:

Komunikasi dan konsultasi risiko
Proses untuk menghasilkan dan mendapatkan informasi dari para pemangku kepentingan baik internal maupun eksternal yang terkait pada setiap tahap proses manajemen risiko. Informasi dapat terkait dengan keberadaan, jenis, bentuk, probability, severity, evaluasi, perlakuan atau aspek-aspek risiko lainnya. Proses ini dilakukan secara kesinambungan mulai awal proses dan terus berulang.

Penetapan konteks risiko
Terkait dengan penentuan batasan-batasan risiko yang akan dikelola dan menentukan lingkup proses manajemen risiko selanjutnya. Konteks tersebut mencakup faktor internal, faktor eksternal, konteks dalam proses manajemen risiko, dan penetapan kriteria risiko.

Faktor internal meliputi seluruh proses kegiatan yang dilakukan satuan kerja operasional, baik kegiatan rutin dan tidak rutin, kondisi normal dan abnormal, ketidakpatuhan terhadap aturan/prosedur internal, kompetensi personil, dan kelayakan sarana, prasarana, instalaiasi serta peralatan pertambangan.

Faktor eksternal meliputi kegiatan yang dilakukan oleh pihak luar; kontraktor usaha jasa pertambangan & tamu perusahaan, infrastruktur, peralatan dan bahan yang disediakan oleh pihak lain, kewajiban hukum berkaitan dengan identifikasi bahaya, serta bahaya teridentifikasi yang berasal dari luar lokasi kerja yang dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan kerja operasional perusahaan.

Konteks manajemen risiko, meliputi ruang lingkup metodologi penilaian, cara evaluasi diatur dalam prosesdur internal perusahaan yang terintegrasi dalam sistem manajemen bukit asam (SMBA).
Penetapan kriteria risiko, seuai dengan prosedur internal PTBA risiko meliputi finansial, manusia, lingkungan, reputasi & hukum. menetapkan matrik konsekuensi/keparahan dengan tingkatan: kecil, sedang, besar, katastropik, matrik kemungkinan/probabilitas dengan tingkatan: sangat kecil, jarang, kadang-kadang, sering dan jenis level risiko dengan tingkatan: low, medium, high & extreme.

Identifikasi bahaya
Dilakukan pada seluruh kegiatan, proses, produk dan area kerja yang akan dinilai risikonya. Bahaya ini dapat diketahui dengan melihat hal apa saja yang dapat mencelakai pegawai / menimbulkan kecelakaan. Identifikasi bahaya dilakukan dengan cara observasi suatu aktivitas atau wawancara dengan pegawai yang terkait dengan aktivitas tersebut. Identifikasi disusun oleh tim internal satuan kerja setingkat manajer, diperiksa pimpinan satker lapis I dan disetujui General Manager Unit.

Penilaian dan pengendalian risiko,
Proses penilaian risiko yang diakibatkan adanya bahaya, merupakan hasil perkalian antara nilai keparahan dan nilai kemungkinan sesuai dengan matrix yang telah ditetapkan, nilai penilaian ditetapkan sbb: very low, low, medium, high, extreme.

Pengendalian Risiko menjadi tanggung jawab seluruh pemilik risiko satuan kerja operasional, pengendalian sesuai dengan hirarki yang telah ditetapkan sbb:

  1. Eliminasi (menghilangkan) bahaya
    Menghilangkan bahaya dari suatu kegiatan, efektif menghilangkan risiko sampai dengan 100 %, apabila pengendalian eliminasi tidak dapat dilaksanakan, maka dilakukan pengendalian tahap berikutnya.
  2. Substitusi (mengganti)
    Mengendalikan risiko dengan cara mengurangi bahaya melalui modifikasi proses (peralatan, bahan, dan metode kerja) dengan tingkat bahaya yang lebih rendah, pengendalian substitusi ini efektif menurunkan risiko sampai dengan 75%. Apabila pengendalian substitusi tidak efektif, maka dapat ditambahkan dengan pengendalian berikutnya.
  3. Rekayasa Teknik (reengineering)
    Mengendalikan risiko dengan merekayasa ulang peralatan, sehingga menurunkan tingkat bahaya yang lebih rendah, pengendalian ini efektif menurunkan risiko sampai dengan 50%. Apabila pengendalian rekayasa tidak efektif, maka dapat ditambahkan dengan pengendalian berikutnya.
  4. Pengendalian administrasi
    Mengendalikan risiko dengan kontrol administrasi, meliputi pemenuhan peraturan/ prosedur/ standar, pengawasan/ pemeriksaan inspeksi/ observasi, pemenuhan kompetensi, pengendalian ini efektif menurunkan risiko sampai dengan 30%. Apabila pengendalian secara administrasi tidak efektif, maka dapat ditambahkan dengan pengendalian berikutnya.
  5. Alat Pelindung Diri
    Apabila masih ada sisa risiko dan belum dapat diterima, maka dilakukan pengendalian dengan penyediaan alat pelindung diri sesuai risiko pekerjaan, sebagai pilihan terakhir dalam pengendalian risiko, pengendalian ini efektif menurunkan risiko sampai dengan 10%.
Pemantauan dan peninjauan
Kegiatan review risiko K3 dilakukan setiap satu tahun sekali atau apabila terjadi kecelakaan/kejadian berbahaya, penyakit akibat kerja, perubahan peralatan atau kegiatan dan proses kegiatan baru, hasil review dikomunikasikan kepada seluruh pihak terkait dan dipastikan pengendalian risiko dilakukan.