PLTU Tanjung Enim 3 x 10 MW Hasilkan 144 Juta MW Per Tahun

PLTU Tanjung Enim 3 x 10 MW Hasilkan 144 Juta MW Per Tahun

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Enim 3 x 10 MW milik PT Bukit Asam (Persero) Tbk, menargetkan menghasilkan 144 juta MW untuk tahun 2017 dengan volume produksi mencapai 12 juta MW. Hal tersebut diungkapkan oleh Asisten Manajer Perawatan PLTU, Satuan Kerja Pembangkit Listrik Tanjung Enim, Edwar B. Halidin Syam. Volume produksi tersebut dihasilkan oleh dua dari tiga pembangkit yang dimiliki PLTU Tanjung Enim. u201cKami masih belum berencana mengaktifkan satu pembangkit lagi, karena hingga kini kebutuhan beban konsumsi listrik untuk operasional perusahaan masih bisa dipenuhi dari dua pembangkit listrik saja,u201d terang Edwar. Namun, apabila program penambangan elektrifikasi yang sudah dijalankan PTBA membutuhkan lebih banyak pasokan tenaga listrik, PLTU Tanjung Enim 3 x 10 MW dapat mengaktifkan satu pembangkit listriknya sehingga ketiga pembangkit listrik yang dimiliki PLTU beroperasi penuh. Kebutuhan batu bara PLTU Tanjung Enim 3 x 10 MW dipasok dari tambang Banko Barat yang jaraknya sekitar 5 kilometer dari lokasi PLTU. Dengan batu bara berkalori 4.200-6.000 gross air-received (GAR) kcal/kg, PLTU menggunakan boiler bertipe Circulating Fluidized Bed (CFB), yaitu boiler stoker (unggun fluidisasi) di mana batu bara dibakar di belt conveyor dan diberi hembusan udara dari sisi bawah. Dengan cara ini menjadikan rentang penggunaan kalori batu bara menjadi lebih luas karena bisa mengakomodir hingga batu bara berkalori 6.000 GAR. PLTU Tanjung Enim dibangun untuk pemenuhan energi listrik di tambang PTBA, misalnya Tambang Air Laya yang banyak menggunakan energi listrik untuk operasionalnya, karena adanya peralatan tambang dengan sistem continuous mining, yaitu BWE, spreader, termasuk conveyor-nya. Konsumsi listrik yang sangat banyak itu menjadikan PTBA melakukan studi kelayakan PLTU sejak 2007 dan mulai membangun pada 2009. Pada Mei 2013, PLTU Tanjung Enim 3 x 10 MW melakukan Commercial Operation Date (COD) dan sempat beberapa kali berhasil melakukan penjualan excess power ke PT PLN. Pembangkit listrik yang operasionalnya dikelola oleh PT Bukit Energi Servis Terpadu (BEST) ini dalam waktu dekat ke depan akan mengadopsi sistem ISO 90001 di tahun ini.