Menumbuhkan Persatuan melalui Siswa Mengenal Nusantara

Siang itu, suasana di Bandara Radin Inten II Lampung terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Rombongan remaja berjaket abu-abu keluar dari pintu kedatangan sambil menyanyi dan meneriakkan yel-yel. Penumpang pesawat yang baru tiba tersenyum memperhatikan rombongan remaja ini, bahkan tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut dengan gawai.

Rombongan berjaket abu ini merupakan para pelajar SMA/SMK dan SLB dari Provinsi Lampung yang telah menyelesaikan program Siswa Mengenal Nusantara (SMN) di Maluku Utara selama 9 hari. Kamis, 22 Agustus 2019, mereka kembali dengan selamat sampai di Lampung. Meski wajah mereka terlihat lelah menempuh perjalanan dari Maluku Utara kembali ke Lampung, namun senyum tak hilang dari wajah mereka.

Malam harinya, 23 pelajar peserta SMN ini berkumpul dengan guru pendamping dan BUMN penyelenggara. Mereka menceritakan pengalamannya berkunjung dan berbaur dalam masyarakat yang berbeda budaya.

Salah satu siswa Lampung, Tubagus Fajar, menceritakan pengalamannya selama program SMN di Maluku Utara. Siswa yang akrab disapa Tebe ini awalnya terkejut karena harus tinggal bersama dengan warga setempat dengan kondisi yang seadanya. Dirinya juga mengaku sempat takut saat pertama kali sampai ke Maluku Utara karena khawatir mengenai perbedaan budaya.

Namun, Tebe mengaku terharu karena keluarga tempat dia menetap selama program SMN di Maluku Utara sangatlah baik dan membantunya beradaptasi. Tak hanya itu, perbedaan budaya bukanlah penghalang antara dia dan keluarga asuh. Justru adanya perbedaan budaya membuat dirinya dan keluarga asuh semakin dekat.

“Bahkan saat kita mau pulang ke Lampung, semuanya menangis karena harus berpisah. Yang awalnya kita sempat takut karena kita pikir orang sana keras-keras, ternyata tidak terbukti. Mereka sangat baik sama kita dan malah kita sudah dianggap seperti anak sendiri,” terangnya.

Hal senada juga diceritakan oleh Salsabila. Siswi SMA Lampung ini mengatakan mengikuti program SMN adalah pengalaman yang berharga baginya. Baru kali ini dia menempuh perjalanan jauh dari rumah dan berkunjung ke tempat yang berbeda kebudayaan. Hampir tiap malam dirinya membantu keluarga asuh mengupas pala. Tak hanya itu, Salsa juga melihat langsung pohon cengkeh berusia ratusan tahun yang merupakan kekayaan alam dari Maluku Utara.

Adanya kegiatan SMN ini, para siswa dapat mengenal Indonesia lebih dalam melalui keanekaragamannya. Bahkan melalui program ini, para siswa dapat melepaskan stereotype negative mengenai kebudayaan lain di luar daerahnya. Dengan pengalaman nyata yang dirasakan langsung oleh siswa, diharapkan seluruh kegiatan SMN ini dapat menambahkan rasa persaudaraan dan persatuan Indonesia.