Kelak Berjumpa Lagi

Catatan Harian SMN

Kelak Berjumpa Lagi 

Satu per satu koper dan tas mulai memenuhi lobi hotel. Tak sedikit pula kardus-kardus ukuran kecil dan sedang terletak rapi di antaranya. Ada keripik pisang, tapis, dan oleh-oleh khas Lampung lainnya. Oleh-oleh yang kami siapkan untuk keluarga dan kerabat tercinta. Hari ini merupakan hari terakhir kami di negeri Sai Bumi Juwai Ruwai. Sedih rasanya meninggalkan tempat ini, tapi tak sabar pula rasanya kembali berjumpa dengan orang terkasih.

Sebelum berangkat ke bandara, kami mampir terlebih dahulu ke usaha Keripik Pisang Shinta. Di sana kami mendapatkan paparan mengenai latar belakang berdirinya usaha ini hingga perkembangan bisnisnya saat ini. Tak ketinggalan, kami juga berkesempatan menyaksikan langsung bagaimana proses pengolahan pisang kepok menjadi keripik pisang beragam rasa yang dijajakan oleh usaha ini.

Beberapa teman juga turut membantu ibu-ibu di dapur pengolahan untuk mengiris pisang sebelum digoreng. Tangan yang lengket terkena getah pisang tampaknya menjadi makanan sehari-hari para ibu yang mengolah pisang ini. Setelah dari dapur, kami berkeliling di toko untuk melihat dan menyicipi berbagai keripik yang ada. Sungguh pengalaman yang menyenangkan dan mengenyangkan.

Tak hanya keripik pisang, kami juga mengunjungi usaha sulam usus di Rahayu Gallery. Di sini kami melihat berbagai desain khas Lampung yang begitu indah dan elegan. Tak hanya produknya, kami juga melihat proses pembuatan kain-kain tersebut. Jari-jari lincah para ibu yang tengah menyulam, menjadi pemandangan yang menarik perhatian. Tentu dibutuhkan kesabaran dan kejelian dalam membuat karya tersebut.

Tak aneh, karena memang satu karya dapat memakan waktu pembuatan dari 2 minggu hingga beberapa bulan. Hasilnya pun tak membohongi proses. Baju, rok, dan kain yang dihasilkan memiliki nilai jual yang tinggi dan telah mendapat apresiasi di tingkat nasional.

Perjalanan mempelajari budaya Lampung hari terakhir ini, tak berhenti sampai disana. Kami bertolak ke Kedatun Keagungan. Di sana kami disambut meriah dengan tarian selamat datang yang ditampilkan oleh sejumlah penari. Kami juga berkesempatan berdiskusi mengenai budaya Lampung dan kesamaan yang dimilikinya dengan budaya kami di Maluku Utara. Di sana, kami belajar bahwa ada banyak kesamaan nilai yang dianut. Perbedaan yang ada justru menjadi keindahan tersendiri. Seperti yang disebutkan dalam semboyan negara Bhinneka Tunggal Ika.

Dari sana, kami bertolak ke bandara. Sepanjang perjalanan di bus, kami menyaksikan kompilasi perjalanan kami selama di Lampung. Satu per satu tak kuasa menahan air mata perpisahan. Suasana bus yang tadinya ceria berubah menjadi haru. Berat rasanya meninggalkan dan berpisah dengan kakak-kakak yang telah menemani kami selama lebih kurang 2 minggu ini.

Kami berjanji untuk terus menjaga tali siraturahmi yang telah terjalin. Mungkin dapat berkunjung kembali ke tempat ini. Dengan berat hati, kami memasuki bandara dan melambaikan tangan tanda perpisahan kepada kakak-kakak. Semoga kelak kita dapat berjumpa lagi.