Mengenal dan Menjaga Satwa

Catatan Harian SMN 

Mengenal dan Menjaga Satwa

Berbeda dari hari sebelumnya, Senin ini, 19 Agustus 2019, kami mulai bersiap sejak dini hari. Pukul 03.00 WIB dini hari, kakak pendamping kami telah membantu kami bersiap untuk berangkat. Setelah kegiatan di Kalianda kemarin, kini kami akan menuju tempat yang sebelumnya hanya kami kenal lewat buku pelajaran, Way Kambas.

Yap, dari Kalianda yang berada di Lampung Selatan membutuhkan waktu sekitar 3 jam menuju Way Kambas di Lampung Timur. Pagi hari kami harus sudah berada di Way Kambas untuk bertemu dengan Badak Sumatera. Karena itulah, jam 03.00 WIB dini hari kami harus bersiap untuk segera berangkat. Tak apa, toh kami bisa melanjutkan tidur di dalam bus menuju Way Kambas.

Pukul 07.00 WIB pagi, kami sudah berada di gerbang Taman Nasional Way Kambas. Usai sarapan, kami bergegas masuk ke area konservasi Badak Sumatera. Dari pintu gerbang, rupanya kami harus melewati area hutan dengan menggunakan bus. Katanya, di dalam hutan ini masih banyak terdapat gajah liar dan hewan lainnya.

Sesampainya di area konservasi Badak Sumatera, kami bertemu dengan para dokter hewan dan petugas yang mengurus para Badak Sumatera di sini. Usai berkenalan, kami diajak masuk ke hutan untuk berjalan kaki mengelilingi area Badak Sumatera yang sangat luas. Suara Siamang dari dalam hutan menyambut kami yang memulai jungle track pagi ini.

Di penghujung jungle track, kami bertandang ke kandang salah satu Badak Sumatera, bernama Harapan. Harapan yang sedang sarapan menyambut kami dengan ramah. Dia menghampir kami yang berada di depan kandangnya, bahkan berpose seolah-olah menunjukkan kebolehannya dalam bergaya.

Kak Ganis yang menemani kami berkeliling bercerita bahwa Harapan adalah Badak Sumatera yang lahir di Amerika Serikat pada 2007 lalu, dan merupakan anak dari Badak Sumatera asli Indonesia. Usai kedua orang tua, dan pasangannya meninggal, Harapan dibawa ke Suaka Rhino Sumatera (SRS) yang berada di Taman Nasional Way Kambas pada 2016 lalu. Harapan sendiri dibawa ke Indonesia dengan tujuan agar dapat berkembang biak dan Sumatera merupakan habitat asli dari Badak Sumatera ini.

Kami juga mendapat penjelasan lengkap mengenai cara hidup dan segala kebutuhan Badak Sumatera ini. Oiya, rupanya Badak Sumatera dan Badak Jawa berbeda. Perbedaan paling jelas pada jumlah culanya. Badak Sumatera memiliki dua cula sedangkan Badak Jawa memiliki satu cula. Tak hanya itu, pada kulit Badak Sumatera juga terdapat bulu-bulu halus.

Usai dari SRS, kami segera menuju tempat penangkaran gajah Way Kambas yang masih berada di satu komplek Taman Nasional ini. Gajah pertama yang menyambut kami bernama Patra. Gajah berusia 6 tahun ini sangat ramah dengan kehadiran kami. Badannya belum terlalu besar dan rupanya dia suka sekali makan pisang. Kami bergantian memberi makan pisang dan tebu untuk Patra.

Untuk lebih jauh mengetahui tentang gajah, kami juga mengujungi Rumah Sakit Gajah Prof. Dr. Ir. Rubini Atmawidjaya. Di sini, kami dijelaskan mengenai obat-obatan untuk gajah dan cara menangani gajah yang sakit. Oh iya, nama Rubini Atmawidjaya dijadikan nama Rumah Sakit Gajah ini atas jasa beliau dalam menghadapi konflik warga dengan gajah liar puluhan tahun lalu. Kami juga baru tahu, rupanya Rumah Sakit Gajah di Way Kambas ini merupakan rumah sakit gajah pertama di Asia. Wah, keren sekali ya!

Dari Rumah Sakit Gajah, kemudian kami menuju tepian kolam tak jauh dari situ. Rupanya inilah kolam tempat gajah-gajah mandi. Saat kami datang, sudah ada dua ekor gajah yang berada di dalam kolam oleh para keeper. Usai mandi, kedua gajah ini menghampiri kami yang berada di tepi. Tentu saja kami girang bukan main, dapat berinteraksi dengan gajah sedekat ini. Kembali kami bergantian menawarkan pisang dan tebu untuk gajah.

Puas bermain dan makan bersama kami, kedua gajah itu kemudian bergegas menuju kandang karena hari telah sore. Tak lama, ada satu gajah besar lain yang menghampiri kami usai mandi. Namanya Hombloh dan berusia 30 tahun. Hombloh ternyata sangat pintar dan ramah meskipun dikelilingi manusia. Beberapa kali kami bercanda melihat tingkahnya yang lucu.

Kami juga dikejutkan dengan aksinya yang dapat membedakan barang. Hombloh bahkan mengerti dengan maksud dan perintah dari keeper dan kami. Tak hanya itu, Hombloh bahkan pintar berpose untuk berfoto bersama kami. Tentu saja kami tak menyia-nyiakan waktu untuk berfoto dengan duduk di kaki Hombloh. Tingkahnya mengundang gelak tawa dan tepukan tangan kami.

Tak terasa hari semakin sore dan Hombloh juga sudah harus masuk kandang. Usai berpisah dengan Hombloh, kami juga harus bergegas kembali menuju Bandar Lampung. Perjalanan dari Way Kambas menuju Bandar Lampung membutuhkan waktu 2 jam lebih, yang artinya hari sudah gelap setibanya kami di Bandar Lampung.

Hari ini sangat melelahkan karena jarak yang ditempuh sangat jauh. Namun kelelahan kami terbayar lunas dengan bertemu Badak Sumatera dan Gajah di Taman Nasional Way Kambas. Tak sembarang orang bisa bertemu dengan Badak Sumatera di sini. Kami beruntung sekali bisa bertemu dengan Harapan si Badak Sumatera. Tentu saja pengalaman bertemu Badak Sumatera dan Gajah ini menjadi motivasi bagi kami untuk turut serta menjaga populasi Badak Sumatera yang mulai sedikit. Yuk, mulai sekarang kita ikut untuk menjaga populasi Badak Sumatera ini.