Kontrak Perdana Batubara

Kontrak Perdana Batubara

JAKARTA- Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) membidik volume transaksi dari pasar fisik batu bara sebesar 75.000 ton pada tahun ini, jauh lebih kecil ketimbang target semula sebanyak 10 juta ton. 
 
Oleh: Surya Rianto (redaksi@bisnis.co.id)
 
BBJ Bidik Target Mini. Harga penawaran perdana batubara di pasar fisik akan dilelang dengan kisaran US$76-US$79 per ton.
 
Sebelumnya, BBJ membidik setidaknya '20% dari total produksi perusahaan seller dalam kontrak fisik emas hitam yang awalnya dijadwalkan rilis pada Mei. Dengan kata lain, jika target produksi batu bara PT Bukit Asam pada tahun ini mencapai 50 juta ton, maka BBJ berharap sekitar 10 juta ton dapat ditransaksikan melalui bursa. Milawarma, Direktur Utama PT Tambang Batu bara Bukit Asam (Persero) Tbk. mengatakan perseroan siap menawarkan 75.000 ton produk batu bara pada tahun ini. 
 
"Sampai pembukaan saat ini sudah ada 17 perusahaan sebagai pembeli yang berasal dari Taiwan, Jepang, Cina, Malaysia, Dubai, dan domestik," ujarnya saat konferensi pers peluncuran pasar fisik BBJ, Selasa, (1/7). Nantinya, sebanyak 60.000 ton dari total 75.000 ton batu bara itu akan ditawarkan untuk pengapalan pada periode September dari pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung. Batu bara yang ditawarkan di pelabuhan Tarahan berjenis BA-70 HS dengan kalori 7.000 kcal/kg. 
 
PTBA menjadi perusahaan tambang pertama yang menjual produknya di pasar fisik tersebut. Nantinya, pihak BBJ akan terus mencari pembeli sampai pembukaan lelang pada 21 Agustus 2014. M. Bihar Sakti Wibowo, Direktur Bursa Berjangka Jakarta, menuturkan nantinya setiap pembeli akan dikenakan administrasi sebesar 0,06% dari total transaksi. Lalu, untuk penjual akan dikenakan administrasi 0,04% dari total transaksi. "Harga penawaran perdana batu bara di pasar fisik akan dilelang dengan kisaran US$76 - US$79 per ton," ujarnya. 
 
Harga itu merupakan patokan dari BBJ yang melihat kondisi global pasar batu bara saat ini. Selanjutnya, PT Bukit Asam secara bertahap akan meningkatkan volume produknya untuk diperdagangkan di pasar fisik. Sebanyak 17 perusahaan siap menjadi pembeli BBJ. Peningkatan volume produknya akan disesuaikan dengan pertumbuhan volume angkutan batu bara dari lokasi tambang menuju pelabuhan pengiriman. Sherman Rana Krishna, Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta, menambahkan nanti pihaknya akan berusaha menjajaki perusahaan batu bara lainnya, seperti PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) US$73,64 per ton. "Nantinya, pasar fisik batu naik tipis US$0,04 dibanding dengan HBA pada bulan lalu untuk menentukan harga batu sebesar US$73,60 per ton.
 
Kepala Bappebti Sutriono mengatakan pasar fisik batu bara memiliki referensi harga batu ini akan menjadi wadah pembentukan dan penyebaran informasi harga yang dilakukan oleh pelaku pasar. Selain itu, pasar fisik ini dapat dijadikan sebagai alternatif batu harga yang selama ini mengacu ke luar negeri. Setelah meluncurkan pasar fisik, BBJ sedang mengkaji untuk pasar berjangka dari komoditi batu bara.
 
Sumber: Bisnis Indonesia, 2 Juli 2014 halaman 21