Kinerja Unggul Operasional dan Keuangan PTBA Triwulan III 2018

Jakarta, 14 November 2018 – PT Bukit Asam Tbk mengumumkan Kinerja Operasional dan Keuangan Perseroan per 30 September 2018 yang semakin mengagumkan. Kinerja operasional selama sembilan bulan (9M) 2018 yang baik dibuktikan dengan volume produksi yang meningkat hingga 16%, volume penjualan ekspor naik hingga 39% dan tentunya harga jual rata-rata yang juga mengalami kenaikan sebesar 13%, masing – masing dibandingkan terhadap 9M 2017.

Didukung dengan kinerja keuangan 9M 2018 yang baik, mampu mewujudkan likuiditas yang lebih kuat dan profitabilitas yang lebih tinggi dibandingkan 9M 2017. Hal ini terlihat dari Kas dan Setara Kas yang meningkat 70% hingga mencapai Rp 6,06 Triliun, Cashflow dari Arus Kas Operasi akibat penerimaan dari pelanggan meningkat 58% atau sebesar Rp 6,48 triliun serta Laba Bersih yang menembus angka Rp 3,93 Triliun atau 150% dari laba bersih 9M 2017. Keberhasilan tersebut hanya dapat terwujud dengan penerapan strategi usaha yang efektif serta efisiensi yang berkelanjutan di semua lini.

Perseroan berhasil membukukan pendapatan usaha 9M 2018 sebesar Rp 16,04 Triliun, meningkat Rp 2,75 Triliun atau 21% dibandingkan pendapatan usaha 9M 2017. Pendapatan terbesar 9M 2018 diperoleh dari penjualan batubara ekspor yaitu sebesar 52% dari total pendapatan, sedangkan penjualan batubara domestik hanya sebesar 46% dan selebihnya yaitu 2% merupakan pendapatan dari aktivitas usaha lainnya, yang terdiri dari penjualan listrik, briket, minyak sawit mentah, jasa kesehatan rumah sakit dan jasa sewa.

Secara tonase, penjualan batubara periode Januari – September 2018 meningkat sebesar 7,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Volume penjualan batubara ekspor periode Januari – September 2018 lebih rendah dibandingkan penjualan batubara domestik, namun apabila dibandingkan dengan volume penjualan batubara ekspor periode Januari – September 2017, justru meningkat cukup signifikan, yaitu hingga 39% atau lebih dari 2 juta ton.

Hal tersebut termasuk salah satu strategi manajemen dalam memanfaatkan momentum penguatan harga batubara global, pelemahan Rupiah terhadap dolar Amerika dan tentunya peningkatan permintaan batubara, baik dari China akibat kurangnya pasokan batubara domestik selama musim panas yang ekstrim, India yang produksinya masih belum mampu memenuhi kebutuhan domestik hingga adanya peningkatan demand untuk Korea Selatan.

Harga jual rata-rata batubara periode Januari – September 2018 mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu sebesar 13% atau naik dari Rp 745.775/ton menjadi Rp 841.655/ton. Acuan (HBA) sebesar 20%, dibandingkan harga rata-rata Januari – September 2017. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga rata-rata batubara Newcastle periode Januari – September 2018 yang cukup signifikan yaitu sebesar 27% serta kenaikan rata-rata harga batubara.

Target untuk tahun 2018 Perseroan merencanakan produksi batubara sebesar 25,54 juta ton untuk tahun 2018, yaitu naik 5% dari realisasi sebelumnya sebesar 24,25 juta ton. Terkait dengan angkutan, PT Kereta Api Indonesia menyatakan komitmennya akan mengangkut batubara PTBA dari lokasi tambang Tanjung Enim sebesar 23,10 juta ton. Rencana angkutan tersebut meningkat 8% jika dibandingkan realisasi tahun 2017, yaitu sebesar 21,36 juta ton.

Dalam penjualan, Perseroan menargetkan untuk meningkatkan volume penjualan menjadi sebesar 25,88 juta ton dengan komposisi 53% untuk 13,74 juta ton untuk pasar domestic dan 47% atau 12,15 juta ton untuk pasar ekspor. Total target penjualan tahun 2018 meningkat sebesar 2,25 juta ton atau 10% dibandingkan realisasi tahun 2017 sebesar 23,63 juta ton. Peningkatan target penjualan ini ditopang oleh rencana penjualan ekspor untuk batubara medium to high calorie ke premium market. Selain itu, demand batubara juga menunjukkan pertumbuhan yang positif khususnya di wilayah ASEAN dimana pada wilayah ini akan beroperasinya sejumlah PLTU baru.

Sejalan dengan tagline PTBA “Beyond Coal”, Perusahaan akan mengembangkan peluang bisnis dari rencana Industri Hilirisasi Batubara. Perusahaan telah menandatangani Head of Agreement dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero) dan PT Chandra Asri Petrochemical pada tanggal 8 Desember 2017 untuk mendirikan Coal-to-Chemical-Plant di mulut tambang, Tanjung Enim, Sumatera Selatan dengan konsumsi batubara mencapai 9 juta ton/tahun.

Melalui teknologi gasifikasi, akan merubah batubara menjadi syn gas sebagai feedstock untuk produksi urea dengan kapasitas 570 ribu ton per tahun, Dimethyl Ether (DME) dengan kapasitas 400 ribu ton per tahun dan Polypropelene dengan kapasitas 450 ribu ton per tahun. Proyek ini direncanakan Commercial Operation Date (COD) pada bulan November 2022. Saat ini, proyek hilirisasi batubara sedang memasuki tahap Bankable Feasibility Study dan pembebasan lahan di suatu Kawasan Industri Berbasis Batubara – Bukit Asam (Bukit Asam Coal Based Industrial Estate).