PT Bukit Asam Tbk memiliki sejarah yang sangat panjang di industri batu bara nasional

Operasional perusahaan ini ditandai dengan beroperasinya tambang Air Laya di Tanjung Enim tahun 1919 oleh pemerintah kolonial Belanda. Kala itu, penambangan masih menggunakan metode penambangan terbuka.

ALUR KERJA UPTE

 

BWE:  Bucket Wheel
ExcavatorSH/TR:  Shovel & Truck
SWKL:  Swa-kelola
TLS:  Train Loading Station

PRODUKSI

Di tengah kecenderungan harga batu bara dunia yang fluktuatif, Perseroan tetap berkomitmen untuk meningkatkan laju pertumbuhan produksi batu bara. Komitmen ini dibuktikan dengan terus meningkatnya produksi batu bara secara konsisten, seiring dengan peningkatan kapasitas angkutan kereta api. Hal ini terlihat dari Compound Annual Growth Rate (CAGR) produksi dan kapasitas kereta api dalam kurun waktu tahun 2015 hingga target 2019, masing-masing sebesar 9,1% dan 12,5%.

Uraian 2018 2017 (ton) Uraian (Deviasi) Peningkatan/Penurunan (%)
PRODUKSI
Unit Pertambangan Tanjung Enim (UPTE)
• Tambang Air Laya 7.815.650 5.560.381 2.255.269 41
• Muara Tiga Besar Utara (MTB) 5.912.219 5.921.553 (9.334) (1)
• Banko Barat & Tengah 11.640.131 11.893.359 (253.228) (2)
Jumlah Produksi UPTE 25.368.000 23.375.293 1.992.707 9
Unit Pertambangan Peranap 2.115 - 2.115 111
PT Internasional Prima Coal (IPC) 985.286 870.505 114.781 13
Jumlah Produksi 26.355.401 24.245.798 2.109.603 9
PEMBELIAN
PT Bukit Asam Prima - 364.669 (364.669) (100)
Jumlah Produksi dan Pembelian 26.355.401 24.610.467 1.744.934 7

PENGANGKUTAN

Perseroan bekerja sama dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) dalam proses pengangkutan batu bara dari Tanjung Enim ke Pelabuhan Tarahan (Lampung) dan Dermaga Kertapati, Palembang. Proses yang dilalui dalam pengangkutan batu bara meliputi:

  • Pengaturan jumlah dan kualitas muatan batu bara yang akan dimuat ke dalam setiap gerbong kereta api melalui Train Loading Station (TLS).
  • Pengawasan dan pencatatan distribusi batu bara menuju Pelabuhan atau Dermaga.
  • Pelaksanaan bongkar muat batu bara dari gerbong kereta api menggunakan Rotary Car Dumper (RCD) di Pelabuhan Tarahan dan Apron Feeder (AF) di Dermaga Kertapati.

Uraian 2018 2017 Uraian (Deviasi) Peningkatan/Penurunan (%)
Tanjung Enim – Tarahan 19.670.165 18.261.978 1.408.187 8
Tanjung Enim – Kertapati 3.017.087 3.101.352 (84.265) (3)
Total Angkutan 22.687.252 21.363.330 1.323.922 6

Sejalan dengan meningkatnya produksi batu bara di tahun 2018, maka total volume angkutan batu bara melalui kereta api ke Pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati juga mengalami peningkatan, yaitu dari 21.363.330 juta ton tahun 2017 menjadi 22.687.252 juta ton di tahun 2018 atau meningkat 6%.

PENJUALAN

Untuk tahun 2018, volume produksi batu bara mencapai 26,36 juta ton atau naik 9% (y-o-y) dan volume penjualan batu bara mencapai 24,70 juta ton, meningkat 5% (y-o-y). Sedangkan laba bersih Perseroan mencapai Rp5,02 triliun atau naik 12% dibandingkan tahun sebelumnya. Pencapaian laba tahun 2018 merupakan laba bersih tertinggi sejak Perseroan beroperasi.

Dari domestik, tantangan yang terasa cukup signifikan bagi Perseroan di tahun 2018 berasal dari kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) dari pemerintah. Dalam hal ini, Perseroan menanggapinya dengan tetap mengikuti standar harga dari pemerintah dan melakukan efisiensi di internal untuk mengimbanginya. Perseroan meyakini bahwa kebijakan DMO memiliki tujuan yang baik bagi kepentingan masyarakat, oleh karena itu Perseroan mendukung sepenuh hati penerapan kebijakan tersebut. DMO merupakan kewajiban produsen batu bara domestik untuk memasok batu bara bagi kebutuhan PT PLN (Persero). Kebijakan ini telah disahkan dengan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Manusia (ESDM) Nomor 23K/30/MEM/2018, di mana minimal 25 persen produksi batu bara harus dijual ke PT PLN (Persero).

Uraian 2018 2017 2016 2015 2014
PENJUALAN
Domestik 13.910.463 14.386.772 12.267.467 10.051.853 9.300.547
Ekspor 10.782.399 9.241.103 8.485.700 9.049.368 8.664.003
Jumlah Penjualan 24.692.862 23.627.875 20.753.167 19.101.221 19.962.550