Pertambangan Berkelanjutan untuk Investasi Jangka Panjang

Pertambangan Berkelanjutan untuk Investasi Jangka Panjang

Banyak pihak yang masih memiliki keraguan bahwa bisnis pertambangan apapun dapat menjadi berkelanjutan. Tetapi untuk Bukit Asam, menjalankan bisnis yang berkelanjutan merupakan sebuah investasi jangka panjang.
 
Sebagai perusahaan batubara milik negara yang berubah menjadi perusahaan publik pada Desember 2002, Bukit Asam telah menyadari pentingnya menjaga kepercayaan investor. Itu sebabnya prinsip berkelanjutan dianggap sebagai hal yang penting. 
 
Prinsip tersebut telah terbukti dengan berbagai penghargaan baru yang dikumpulkan oleh perusahaan di ajang Penghargaan Bisnis Berkelanjutan Tahunan kedua yang diadakan sebagai bagian dari KTT Indonesia: Bisnis untuk Lingkungan, saat November lalu. 
 
Bukit Asam berhasil memenangkan dua penghargaan dalam industri pertambangan dan logam beserta prestasi khusus sebagai “Juara Umum”. 
 
Bukit Asam telah menjalankan bisnis pertambangan batubara sejak 1981 dan memiliki tiga situs, yaitu di Tanjung Enim yang terletak 200 kilometer arah barat laut kota Palembang, Sumatera Utara, dan di Ombilin, Sawahlunto, yang terletak 90 kilometer arah tenggara Padang, Sumatra Barat. Sekarang, Bukit Asam juga beroperasi dekat Samarinda, Kalimantan Timur.
 
Dengan mengelola sekitar 90 hektar, Bukit Asam memproduksi 7,3 milyar metrik ton batubara yang didistribusikan ke dalam dan luar negeri. “Penghargaan Bisnis Berkelanjutan” adalah kompetisi tahunan yang mengukur seberapa jauh perusahaan melakukan prinsip berkelanjutan dalam bisnisnya. 
 
Dengan penghargaan tersebut, Bukit Asam telah menunjukkan bahwa sebuah perusahaan lokal dapat lebih unggul dibandingkan perusahaan multinasional seperti Total, Holcim, dan Nestle. 
 
“Kita mengerti bahwa penambangan bisa merusak alam, tetapi lingkungan merupakan sebuah investasi,” kata Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Joko Pramono. 
 
Untuk membuktikan perkataannya, perusahaan mengalokasikan Rp 300 miliar ($25 juta) setiap tahun untuk program-program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). 
 
Menurut Joko, anggaran tersebut disiapkan setiap tahun untuk memenuhi visi perusahaan sebagai perusahaan energi yang ramah lingkungan. 
 
“Kita menyebutnya investasi. Pola pikir tua menganggap program lingkungan sebagai pengeluaran semata. Tetapi bagi kami, hal itu justru membuat bisnis kami tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan,” kata Joko.
 
Dari Kota Hantu ke Kota Independen
 
Jika lahan pasca penambangan ini sering diasosiasikan dengan kota hantu seperti film koboi, Bukit Asam memecahkan stigma tersebut dengan membangun kembali satu area untuk kesejahteraan masyarakat setempat. Di Muara Enim, Sumatera Selatan, lahan pasca penambangan sekitar 5.460 hektar dirancang untuk taman hutan botani yang telah berkembang menjadi 12 zona, termasuk rekreasi, agribisnis, penggunaan air, pertanian, penelitian, satwa liar, dan fungsi lainnya. 
 
“Zona agribisnis sangat berguna untuk ribuan karyawan yang mampu mengembangkan area untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari,” kata Joko. 
 
Bukit Asam bekerja sama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Sriwijaya untuk membangun teknologi, pertanian dan hortikultura yang efisien. “Jadi, industri dikembangkan, kebutuhan manusia terpenuhi, dan energi dapat diselamatkan serta menjadi efisien,” katanya. 
 
Tidak hanya di Muara Enim, area pasca tambang di Bukit Kandi dan Tanah Hitam di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, juga direklamasi untuk tujuan wisata, seperti Taman Margasatwa. 
 
Area penambangan open-pit di Sawahlunto meliputi 529 hektar; sementara tanah yang telah digunakan mencapai hampir 73 persen dari total area. 
 
Rehabilitasi, revegetasi, dan program pembangunan kembali untuk menciptakan daya tarik alam telah lama ditetapkan dan tanah telah dikembalikan ke pemerintah Sawahlunto pada tahun 2008. 
 
Pemerintah daerah juga mengatur Tour de Singkarak, perlombaan bersepeda internasional tahunan untuk mempromosikan daerah sebagai tujuan wisata secara global. “Sebuah area juga telah dialokasikan untuk membangun sebuah pemakaman dan sekitar 5.000 kuburan dari era kolonial telah dipindah,” kata Joko. 
 
Bagaimana sebuah perusahaan pertambangan menentukan apakah sudah memberikan perhatian terhadap lingkungan sekitarnya?” Sangat sederhana. Lihat saja perkembangan pembangunan di area sekitarnya dan perhatikan tingkat kemapanan masyarakatnya,” katanya.
 
Di tingkat regional, perusahaan berhasil mendapatkan posisi runner-up dalam pelaksanaan CSR. Melalui prestasi tersebut, perusahaan mematahkan stigma yang selalu melabel perusahaan pertambangan sebagai perusahaan yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan kerusakan lingkungan. Sekarang, Bukit Asam telah menjadi perusahaan yang meningkatkan standar dalam sektor lainnya di Asia Tenggara dalam hal tanggung jawab lingkungan.“ Kami tidak haus akan penghargaan, tetapi hal tersebut adalah bagian dari standar kami, seberapa jauh kita peduli tentang masyarakat dan lingkungan,” kata Joko. 
 
Untuk membantu masyarakat setempat, Bukit Asam percaya bahwa pendidikan adalah pijakan penting untuk memberdayakan mereka sehingga perusahaan menyediakan dukungan keuangan untuk beberapa sekolah di Muara Enim. Perusahaan menyediakan sejumlah lokakarya mekanik dan kerajinan tangan, di antaranya, dan juga mementori usaha dan industri kecil untuk membuat mereka tumbuh dan menjadi independen di bawah Pusat Industri Bukit Asam (SIBA).“ Kita membutuhkan orang-orang lokal. Kami sadar kalau kami membutuhkan mereka, itulah mengapa kami menciptakan industri dan peluang di area sekitar,” kata Joko.
 
Pada tahun 2012, perusahaan menghabiskan sekitar Rp 19,22 miliar untuk mendanai sejumlah lokakarya dan program pelatihan bagi komunitas lokal. 
 
“Jika kita melihat ini pada satu tingkat, semua biaya mungkin dilihat sebagai hal yang sia-sia. Akan tetapi, jika kita mempertimbangkannya sebagai tujuan jangka panjang, sekali lagi ini akan menjadi investasi. Jika orang-orang yang tinggal di daerah sekitar situs terdidik dengan baik, maka hal itu adalah pertanda baik, karena akan membantu perusahaan” kata Joko. 
 
Untuk memberdayakan masyarakat dan lingkungan, Bukit Asam bekerja sama dengan beberapa universitas. Sebagai contoh, dengan IPB, Bukit Asam mendirikan laboratorium yang menanam tanaman lokal yang langka.
 
Perusahaan pertambangan ini juga bekerja sama dengan Universitas Bengkulu untuk menciptakan zona pengembangan reklamasi lahan pasca tambang. Dengan ITB, Bukit Asam berusaha mengelola sistem air sehingga air dapat disalurkan secara langsung ke pengguna akhir. Sebagai hasilnya, hampir semua kebutuhan pokok dan operasional dipenuhi secara independen melalui program SIBA sehingga tidak perlu membawa produk mahal dari Lampung, Palembang, atau lahan yang lebih jauh. 
 
“Pada akhirnya, kami membantu orang-orang untuk menjadi independen secara ekonomi. Jika mereka menjadi independen, maka masyarakat akan mendapatkan keuntungan pula karena konflik akan semakin jarang terjadi,” kata Joko.
 
Mensinergikan Bisnis, Masyarakat, dan Lingkungan untuk Pembangunan 
 
Saat ini, di tahun kedua, juri “Penghargaan Bisnis Berkelanjutan” Indonesia sibuk menilai lebih dari 50 perusahaan nasional dan multinasional di delapan kategori. 
 
Kategori ini termasuk strategi dan visi untuk praktik-praktik yang berkelanjutan, komitmen untuk mengembangkan tenaga kerja yang berkelanjutan, tanggung jawab sosial perusahaan, pengelolaan limbah yang berkelanjutan, pengurangan penggunaan energi, pengelolaan air yang berkelanjutan, rantai pasokan yang termonitor dengan baik, dan komitmen untuk melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem. 
 
Sebagai salah satu pemain utama dalam industri pertambangan, Bukit Asam yang merupakan Badan Usaha Milik Negara juga mengumpulkan skor tertinggi di seluruh kategori dan dianugerahi sebagai “Juara Umum”. Bukit Asam telah menjadi perintis dalam pengembangan sebuah taman botani untuk tujuan rekreasi dan konservasi di tanah yang telah selesai ditambang. Bukit Asam, yang berbasis di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, mengklaim bahwa perusahaan ini merupakan penambang batubara open-pit pertama yang melakukan pemulihan pasca tambang dengan 5.640 hektar yang akan dikonversikan menjadi area yang menguntungkan secara ekonomi. “Di perusahaan lain, mereka pergi setelah selesai mengekstrak apa yang mereka inginkan. Kami berbeda. Kami membersihkan, menghilangkan limbah beracun dan asam, serta membangun kembali daerah tersebut menjadi objek wisata,” kata Sekretaris Perusahaan Bukit Asam, Joko Pramono. 
 
Meskipun tengah berada di sektor yang telah terpukul keras oleh krisis keuangan yang dimulai di Eropa dan Amerika Serikat, sebelum berdampak pada permintaan sumber daya alam yang tak terpenuhi di Cina, Bukit Asam telah mencoba untuk menjaga komitmennya untuk fokus pada pemberdayaan masyarakat dan kesejahteraan rakyat dengan menjalankan perusahaan dalam prinsip yang berkelanjutan.
 
Komitmen ini telah dilaksanakan. Ketika bisnis pertambangan lainnya telah mengumumkan PHK, Bukit Asam malah mempekerjakan. “Kami merekrut 300 staf ketika perusahaan pertambangan lain memberhentikan ratusan pekerja,” kata Joko. 
 
Berbicara mengenai ketenagakerjaan, Bukit Asam lebih memprioritaskan pekerja lokal. Hampir 90 persen dari staf di situs adalah orang-orang lokal yang tinggal di dekat daerah situs. Dalam hal penggunaan energi, perusahaan membangun pembangkit listrik tenaga batubara di Mulut Tambang, Sumatera Selatan, dengan kapasitas 30 megawatts untuk memasok energi listrik dalam aktivitas tambang di Tanjung Enim. Kelebihan energi yang ada diberikan kepada Perusahaan Listrik Negara sebagai perusahaan energi milik negara untuk dapat didistribusikan ke desa-desa sehingga bisa menguntungkan lebih banyak orang.
 
Untuk keperluan non-operasional, Bukit Asam menggunakan energi surya untuk lampu kolam, misalnya, pada lampu jalanannya. Untuk memerluas sumber energinya, Bukit Asam menanam minyak kelapa sawit dan jatropha untuk mengembangkan energi alternatif. Perusahaan juga mendaur ulang air dalam jumlah besar yang digunakan untuk kegiatan penambangan. Teknologi sistem pemompaan dibuat untuk menyingkirkan asam sehingga air dapat dipasok untuk kegiatan memancing. 
 
Melalui usaha kecil yang dimentori oleh perusahaan, Bukit Asam memproduksi suku cadang yang sebelumnya diimpor dari Jerman dan Swedia. Hal ini membuat perusahaan bisa menghemat Rp 90 milyar ($7,4 juta). 
 
“Sebagai perusahaan milik negara publik, setiap keputusan dapat memengaruhi para investor sehingga kami berkomitmen untuk menjadi perusahaan energi yang ramah lingkungan dan menjadi patokan untuk perusahaan lain,” kata Joko. JG
 
Sumber: Jakarta Globe, hlm. 8, 30 Januari 2014