PTBA Mendulang Untung di Tengah Terpuruknya Harga Batubara

PTBA Mendulang Untung di Tengah Terpuruknya Harga Batubara

Di tengah kemelut harga batubara yang semakin terpuruk, PTBA justru mampu menaikkan kinerjanya secara signifikan pada 2015, hingga mampu mendulang untung lebih tinggi di tahun sebelumnya sebesar 9,30 persen.

Dalam konfrensi pers yang digelar setelah Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Kamis (14/4), Corporate Secretary Joko Pramono, yang kini  diangkat sebagai Direktur PTBA, menyebutkan, perolehan laba bersih tahun buku 2015 sebesar Rp2,04 triliun, sedangkan laba bersih tahun 2014 sebesar Rp1,86 triliun. Lantas, apa langkah-langkah strategis perusahaan yang wilayah operasionalnya berada di Tanjung Enim, Sumatera Selatan ini semakin meningkat?

Joko menyebutkan, pertama, melakukan efisiensi di berbagai lini berupa optimasi sistem penambangan dengan elektrifikasi peralatan tambang menggunakan tenaga listrik milik sendiri; kedua, mengakuisisi perusahaan jasa penambangan untuk mengingkatkan volume swakelola bagi operasional penambangan; ketiga, memprioritaskan ekspor dengan batubara kalori tinggi melalui market branding yang sesuai dengan kebutuhan pasar; keempat, melakukan terobosan pasar baru, di antaranya ke Bangladesh dan Pakistan.

Dari berbagai efisiensi yang dilakukan, pada tahun 2015 PTB berhasil menekan biaya produksi sebesar 10 persen atau menjadi Rp356,866 per ton dibanding biaya produksi tahun sebelumnya sebesar Rp394784 per ton.

Demikian juga dengan harga jualnya, pada saat Harga Indeks Global turun sebesar 29 persen, PTBA bisa mengendalikannya dengan harga rata-rata tertimbang sebesar Rp718.922, atau hampir sama dibanding harga rata-rata tertimbang tahun sebelumnya sebesar Rp723.635.

Atas perolehan ini,  PTBA berada di Tingkat Perolehan Laba Bersih (Net Profit Margin) tertinggi di antara industri batubara nasional lainnya. Begitu juga dengan rasio keuangan lainnya, PTBA berada di jajaran atas di antara industri pertambangan batubara lainnya.