Nasionalisme untuk Indonesia

Catatan Harian SMN 

Nasionalisme untuk Indonesia

Dirgahayu Republik Indonesia! Tepat di peringatan kemerdekaan yang ke-74, kami mengikuti Upacara Peringaan Kemerdekaan Indonesia di tempat yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya kami mengikuti upacara di halaman sekolah, kali ini kami akan mengikuti upacara di pinggir pantai, di Lampung pula.

Pagi-pagi sekali kami telah bersiap mengikuti upacara. Seragam sekolah yang kami bawa dari Maluku Utara telah kami siapkan dari malam hari. Pokoknya semua harus terlihat rapi untuk Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Setibanya di tempat upacara, kami semua terpukau dengan lokasi upacara kali ini. Benar-benar di pinggir pantai dengan pasir putih. Upacara kali ini kami ikuti bersama dengan Bapak Ibu dari BUMN yang berada di Lampung. Wah, ini bakal menjadi pengalaman yang luar biasa untuk kami.

Inspektur Upacara kali ini adalah Bapak Joko Pramono yang merupakan Direktur Sumber Daya Manusia PT Bukit Asam Tbk. Upacara berlangsung dengan sangat khidmat dan lancar. Usai upacara, lagu-lagu nasional dinyanyikan menambah suasana kemerdekaan di Kalianda ini. Tak lupa, kami juga berfoto dengan Bapak-Bapak Direksi dari Bukit Asam, Brantas Abipraya, dan Kawasan Berikat Nusantara.

Kami senang, karena kami dapat mempertunjukkan tarian khas Maluku Utara di hadapan Bapak Direksi dan Pejabat dari Lampung Selatan. Menari di atas pasir putih dan di tepi laut makin menambah semangat kami untuk menarikan dan membawakan kesenian tradisional kami dengan baik. Ini adalah cara kami memperkenalkan kebudayaan kami di Lampung.

Tak lama kemudian, kami melanjutkan ekspedisi kami menyusuri berbagai lokasi di Lampung Selatan. Kali ini kami diajak menuju rumah adat dan mengenal lebih dengan dengan pahlawan Lampung, Radin Inten. Dipandu oleh Bapak dari Dinas Pariwisata, kami mendapat penjelasan lengkap mengenai sosok Radin Inten ini. Tak hanya itu, kami juga diajak mengunjungi makam Radin Inten.

Di makam Radin Inten kami juga diceritakan mengenai kisah perjuangan Radin Inten. Ternyata, beliau seorang yang sangat gagah dan berani. Pantas saja jika beliau menjadi pahlawan kebanggaan Lampung.

Selesai dari makam Radin Inten, kami menuju Way Belerang. Way Belerang ini sangat rindang karena banyak pohon-pohon besar yang teduh. Kami disambut oleh Bapak Ibu Dinas Pariwisata yang ramah. Berkumpul di salah satu saung, kami disajikan makanan khas Lampung. Ikan dengan kuah asam, sambal terasi, tahu tempe, dan lalapan serta tak lupa nasi dan sayur asam. Meski terlihat sederhana, makanan ini lezat sekali. Apalagi disantap siang hari usai kami berkeliling, segar sekali.

Di Way Belerang ini, sebagian dari kami mencoba berendam di kolam belerang dan sebagian tetap di saung. Way Belerang ini memiliki dua kolam, yang satu air dingin yang satu lagi air yang mengandung belerang. Di kolam belerang inilah kami berendam. Kata orang, berendam di kolam belerang bermanfaat bagus loh untuk tubuh. Maka kesempatan ini tidak kami sia-siakan.

Lalu apa yang teman-teman kami lakukan di saung? Rupanya mereka mengenalkan beberapa tarian dari Maluku Utara ke Bapak Ibu Dinas Pertanian dan ke kakak-kakak dari Bukit Asam. Salah satunya adalah Tari Tobelo. Awalnya teman-teman kami saja yang menari, lama-kelamaan Bapak-Ibu serta kakak-kakak ikut menari Tobelo. Tarian ini banyak menggunakan langkah kaki yang berirama sehingga mudah untuk diikuti.

Usai berendam, melihat keseruan menari ini, tentu saja kami bergabung. Suasana jadi makin meriah. Meski begitu, hari sudah kunjung sore dan kami harus segera pulang untuk persiapan acara malam.

Tak disangka, malam ini kami akan tampil di depan masyarakat Kalianda di Way Handa. Yap kami akan menarikan tarian Lampung yang baru kami pelajari kemarin. Meski baru belajar, tapi kami yakin bisa. Masyarakat mulai berkumpul dan kami makin siap untuk menari. Tak disangka, kami mendapat tepukan meriah dari masyarakat di Kalianda ini. Meski sempat berdebar jantung ini, akhirnya kami lega kami sukses menarikan tarian Lampung ini tanpa ada kesalahan.

Sungguh luar biasa sambutan masyarakat kali ini. Benar makna Bhinneka Tunggal Ika, walau kami berbeda suku budaya, kami tetap Indonesia. Buktinya, keberagaman dan perbedaan ini yang menyatukan kami dari Maluku Utara dengan Lampung. Perjalanan ekspedisi kami masih ada beberapa hari lagi di Lampung. Pasti masih ada banyak lagi hal-hal luar biasa yang dapat kami rasakan.