BAGI DIVIDEN RP 461,97 PER SAHAM, Bukit Asam Ekspansi ke Asean US$1,5 Miliar

BAGI DIVIDEN RP 461,97 PER SAHAM, Bukit Asam Ekspansi ke Asean US$1,5 Miliar

 Oleh: Agustinus Tetiro

 
JAKARTA – PT Tambang Batubara Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) menginvestasikan dana sekitar US$1,5 miliar di sejumlah Negara Asean hingga 2016. Perseroan antara lain membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Myanmar dan Vietnam.
 
“Kami juga akan memasok batubara ke kedua Negara tersebut,” ujar Direktur Utama Bukit Asam Milawarma usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) perseroan di Jakarta, Kamis (27/3)
 
Dia mengatakan, Bukit Asam akan membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) bidang tambang batubara dan PLTU di Vietnam tahun depan. Perseroan telah mengutus tim pembentuk JV ke Vietnam setelah mendapat restu dari Kementrian BUMN.
 
Menurut dia, Bukit Asam akan membangun PLTU dalam dua tahap. Tahap pertama berkapasitas 2x110 megawatt (MW) dengan nilai investasi US$250-300 juta. Sedangkan tahap kedua berkapasitas 2x200 MW dengan estimasi investasi sekitar US$ 300 juta. Tahap kedua relatif mudah karena infrastrukturnya sudah siap.
 
Selain itu, kata Milawarma, Bukit Asam menginvestasikan dana sekitar US$ 900 juta di Myanmar. Perseroan akan menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) dengan mitra strategis dari Myanmar pada April 2014.
 
“Di Myanmar juga dalam dua tahap. Pada tahap pertama kami akan kembangkan PLTU berkapasitas 2x100 MW dan tahap kedua berkapasitas 2x200 MW,” tutur dia.
 
Dia menambahkan, pendanaan untuk ekspansi tersebut berasal dari kas internal dan dana eksternal. Saat ini, Bukit Asam memiliki kas Rp 5 triliun. “Internal cash on hand kami sekitar Rp 3,6 triliun. Kami juga punya treasury stock senilai Rp 1,9 triliun. Selain itu, perseroan memiliki free cash sekitar US$ 300 juta. Hal itu tentu menjadi modal bagi perseroan untuk mendapatkan pendanaan dari luar,” ucap dia.
 
Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Joko Pramono mengatakan, perseroan menargetkan volume penjualan batubara sebanyak 24, 74juta ton atau naik 37% tahun ini. Sedangkan pendapatan ditargetkan naik menjadi Rp 15-16 triliun dibandingkan tahun lalu Rp 11,5 triliun. “Prioritas Bukit Asam tahun ini adalah menjual batubara kalori tinggi untuk menjaga harga yang kompetitif,” ujar dia.
 
Menurut Joko, Bukit Asam membidik target produksi 19,80 juta ton. Adapun trading batubara dari pihak ketiga oleh anak usaha, PT Bukit Asam Prima (BAP), ditargetkan mencapai 3,98 juta ton.
 
Joko menjelaskan, Bukit Asam akan menyeimbangkan penjualan domestik dan ekspor dengan porsi masing-masing 50%. Perseroan juga akan menggunakan energi alternatif yang dihasilkan sendiri.
 
“Selain itu, perseroan memiliki power plant,” tutur dia.
 
Dia mengungkapkan, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) berkisar Rp 2,5-3 triliun tahun ini, meningkat 36,36% dari sebelumnya. “Sumber pendanaannya akan diambil dari kas internal,” kata dia.
 
Tahun ini, dia menjelaskan, Bukit Asam akan menggarap proyek-proyek pengembangan, seperti PLTU Banjarsari 2x110 MW, PLTU Banko Tengah 2x620 MW, dan PLTU Pranap berkapasitas 800-1200 MW.
 
Joko Pramono menambahkan, Bukit Asam membagikan dividen sebesar Rp 1 triliun atau setara Rp 461, 97 per saham dari 55% laba bersih tahun lalu yang mencapai Rp 1,83 triliun. Dividen akan diberikan kepada pemegang saham yang namanya tercatat pada 2 Mei 2014. Perseroan akan membayar dividen pada 16 Mei 2014.
Menjaga Pendapatan
 
Kepala riset Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, aksi korporasi Bukit Asam yang ekspansif akan menjaga pendapatan perseroan untuk beberapa tahun ke depan. Harga saham perseroan berpotensi menguat 5% hingga akhir tahun. “Pendapatan dan laba bersih juga bisa meningkat 4-5%,” ujar dia.
 
Menurut Reza, prediksi itu masih bisa dilampaui jika harga batubara dunia terus membaik. Namun, Bukit Asam harus selalu menerapkan efisiensi ke depan.
 
Analis BNI Securities Thendra Crisnanda mengatakan, harga saham Bukit Asam masih akan bergerak sideways, menyusul belum stabilnya harga batubara dunia. “Di pasar, perdagangan batu bara minim sentimen positif,” ucap dia.
 
Dia mengemukakan, strategi Bukit Asam untuk ekspansi ke Asean sudah tepat. Apalagi perseroan konsen pada bisnis power plant. Selain itu, diversifikasi tujuan ekspor ke Asean memberikan dampak positif untuk menopang penjualan dari pasokan batubara yang berlebihan di dalam negeri.
 
Dia mengungkapkan, ke depan, manajemen Bukit Asam sebaiknya tetap berkonsentrasi dalam upaya efisiensi struktur biaya perseroan. Salah satunya dapat dilakukan melalui integrasi infrastruktur. “Sebenarnya Bukit Asam telah melakukannya saat ini melalui pembangunan rel kereta api,” papar dia.
 
Selain itu, menurut Thendra Crisnanda, perseroan perlu melakukan diversifikasi usaha, terutama guna memberikan nilai tambah. Salah satu yang telah dilakukan adalah pembangunan pembangkit listrik. Pengembangan tekonologi untuk coal bed methane (CBM) juga sebaiknya lebih dikembangkan ke depan.
 
“Bukit Asam pun perlu fokus melakukan diversifikasi target pasar karena kebutuhan batubara masih relatif tinggi,” ujar dia.
 
Sumber: Investor Daily hal. 1, tanggal 28 Maret 2014